Postingan

Kamis Manis

Kasih sayangnya kurayakan setiap hari. Lembut nasehat-nasehatnya mengiringiku setiap waktu. Tak terbatas. Tak terdefinisi.

Esensi, Eksistensi

A Cat in My Eyes . Buku kumpulan cerita karya Fahd Djibran.  Membaca buku ini seperti membaca buku filsafat. Cara penulis bercerita memaksa pembaca ikut berfikir tentang apa sebenarnya makna; cantik, waktu, hidup, bahkan tentang Tuhan, serta pertanyaan-pertanyaan lain. Semua itu sukses membuat pembaca semakin banyak bertanya. Baru mulai membaca cerita yang kedua, sudah disuguhi dengan pergulatan pertanyaan dan jawaban, kata cantik.  Melalui kedua tokoh, Marva dan Zira yang melakukan riset, mencari sumber-sumber, dan melalui pemaknaan,  akhirnya, akhirnya disampaikan bahwa cantik itu tidak bisa didefinisikan. “Cantik adalah jawaban itu sendiri, Zira. Bukankah juga tidak setiap kata kita definisikan dan tak usah kita definisikan?”, begitulah yang tertulis di salah satu cerita yang berjudul Tubuh . Cantik, ya cantik. Cantik tidak perlu didefiniskan secara teoritis. Cantik ya cantik itu sendiri. Ketika kita mendefiniskan makna sebuah kata, terlebih kata sifat, sebena...

A New Mistake

Today's mistake is a good mistake I think.  Senin pagi. Suatu pagi yang selalu digadang-gadang dengan pagi yang penuh semangat, doa-doa baru, harapan baru, dan pelajaran baru. Pagi ini masih sama, diperdengarkan kicauan burung di pohon gereja depan kos, dan burung dara milik kos sebelah. Alhamdulillah... Akal tak sekali datang runding tak sekali tiba. Selalu disadarkan dengan kesalahan yang sangat lambat disadari. Pagi ini dikagetkan dengan kesalahan kecil. Kesalahan yang bisa dengan mudahnya merusak segala yang sudah dipersiapkan. Setelah menyadarinya, kucoba cek file yang tertanggal pertengahan Desember tahun lalu. Ini sudah 2016.  Betapa kagetnya ketika memang sudah salah sejak waktu itu, dan aku sama sekali tidak menyadarinya. Masih dianggap benar, masih dianggap sempurnya. Begitupun seterusnya sampai pagi ini.  Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak nampak. Begitu kata pepatah. Makna pepatah itu baru benar-benar dirasakan pagi ini, o...

Selamat Hari Simbah

Halo, apa kabar hari ini? Apa kabar target? *eh Hari Selasa bukan? Hari ini musim apa ya? Orang-orang berbondong-bondong memasang foto dengan ibunya, mengucapkan hari ibu ke dunia. Oiya, 22 Desember, hari ulang tahunmu ya? Eh, bukan juga.  Pengen pulang saja rasanya. Ketemu bapak, ibuk. Udah jenuh. *Curhat Konon katanya, hari ini hari Ibu. Ibuku? Ibumu? Ibu kita? Semoga menjadi besan? Haluah…. Ibu kita ibu Kartini bukan? Bagiku, setiap hari adalah hari ibu. Apalah aku tanpa ibu. Nggak lahir. Tiap lagi galau gundah gulana aku larinya ke ibuk. Mau lari kemana lagi? Lari ke hutan belok ke pantai? Sama Rangga? Ranggagas. HAHA Hari ini melakukan survey dengan mencoba memasang status, “Sudah ngucapin langsung belum?”  beberapa ada yang komen, belum, ada juga yang malah bilang, terimakasih sudah diingatkan. *terharu aku Dunia jaman sekarang. Apa-apa bisa menjadi viral dalam sekejap. Mudah sekali ikut sana sini. Pencitraan di mana-mana.  Kok harus hari Ibu y...

Kendalikan, hati.

Mengutuki diri sendiri dengan apa yang telah terjadi tidak akan merubah sesuatu pun, sepertinya. Yang sudah ya sudah. Sesal tak kan ada arti bukan? Dongkol sekali rasanya jika usaha kita yang telah diupayakan tiba-tiba musnah begitu saya. Lantas, kau akan menyalahkan siapa? Orang-orang yang kamu harapkan akan peduli denganmu? Ah, omong kosong. Hidup pada akhirnya hanya akan berpijak di atas kaki sendiri. Bahkan bayanganmu dengan mudahnya akan meninggalkanmu dalam kegelapan. Sesal. Lalu, apa yang kamu sesali? Segalanya musnah. Yang ada hanyalah sisa-sisa yang membuat mata ini semakin pedih, tenggorokan tercekat, dan dadamu semakin bergemuruh. Menenggoknya, lalu segera ingin membalikkan badan. Dengan langkah gontai meninggalkannya. Kemarahanmu juga tak akan menuntunmu berjalan menyusuri lorong waktu. Yang ada hanya akan membuang-buang energimu. Berdamailah dengan keadaan, berdamailah dengan hatimu. Selalu berdoa agar Yang Berkuasa di atas sana selalu melimpahkan nikmat keten...

Kamu hanya butuh teman ngobrol kan?

Sebenarnya aku tidak ingin jadi orang sok tahu ataupun pura-pura tahu. Tidak, bukan itu maksudku. Mau bagaimana saya menerkanya, kalau jelas-jelas kamu menggiringku ke topik yang sedang ingin kamu bicarakan. Kamu cuma butuh teman ngobrol kan? Sebenarnya, update- an statusmu di sekian banyak sosmed itu cuma berharap minta ditanggapi bukan? Ah aku ini, lagi-lagi nyinyir dan sok tahu. Hidup ini tak jauh-jauh dari nyinyirin orang, nyinyirin orang nyinyir, nyinyirin orang nyinyir yang lagi nyinyirin orang. Nyinyir melambai. Komplit. Tapi semua bisa diminimalisir, manut kitanya mau bagaimana. Jauh dari keinginan untuk nyinyir lewat tulisan ini, tiba-tiba kamu datang dengan topik lain yang mungkin memang sedang membuncah di kepalamu. Jauh dari topik yang dibicarakan sebelumnya. Kamu ulangi lagi, dan lagi. Begitu terus sampai aku kadang sudah tahu apa yang akan aku dengar. Kamu hanya butuh teman ngobrol kan? Semua orang memang ingin didengarkan. Tanpa dibantah, terkadang. Tapi, na...

Merdu Rindu

Sudah lama sekali kamu tidak datang. Kamu ke mana saja? Tapi nggak papa kan? Mungkin Yang Maha Kuasa belum mengirimkan takdirnya untuk mempertemukan kita. Ah kamu ini, pandai sekali membuat orang rindu. Awal bulan lalu kamu datang pertama kali setelah jeda panjang itu di kota ini. Aku pun juga tidak bisa bertemu. Aku sedang di kota seberang. Hanya dengar kabar saja kalau kamu datang.  Sampai akhirnya, kamu datang lagi. Dengan sepucuk rindu itu, mungkin kamu sengaja menghadangku yang sudah lama ingin sekali bertemu. Aku benar-benar terjebak. Kamu sukses membuatku tidak bergerak. Berhenti di sebuah emperan toko, menantimu menghilang. Yang dinanti-nanti akhirnya kembali. Sore ini kamu datang lagi. Dengan merdu khas suaramu, kamu datang seolah menumpahkan rindu. Ah, merdu sekali. Orang-orang juga merasa nyaman mendengar suaramu. Pohon di seberang jalan itu juga ikut berlenggak-lenggok bak penari yang diiringi lantunan tembang. Rindu membuncah. Pun dengan rindu ini. Akhirnya kita b...